Saat Itu...
Berbicara tentang saat itu, aku ingat sesosok bidadari mungil yang
pernah membawa imajinasiku menjadi luar biasa ketika dengannya. Iya, dia
seorang yang pernah aku suka kala itu. Namun hanya di hati aku menyukainya,
karena rasa itu tak pernah tersampaikan. Bahkan sampai saat ini.
Melihat picture di
sebelah, menurut mu itu siapa dan siapa? Aku dan dia? Salah.
Itu adalah Dia
dengan PangeranNya.
Aku pikir, proses
dimana sang pangeran menyatakan perasaanya kepada Dia adalah seperti itu.
Lihat kan, betapa
bahagianya bidadari kecil itu. Aku pun bahagia disini, meskipun dalam senyum
yang getir .
Aku tidak akan
menceritakan prosesnya sang pangeran menyatakan perasaan ke bidadari kecil itu
seperti apa, tapi aku akan menceritakan saat bayang-bayangku merasa hebat, saat
imajinasiku terasa besar, saat aku merasa menjadi makhluk yang paling bahagia
ketika bersamanya.
Aku teringat saat
kita pulang bersama, yang kebetulan jalan pulang kita memang searah. Waktu
dimana ketika aku berangkat sendiri dan ketika pulang bareng dia terasa
berbeda, aku merasa waktu sangat cepat berlalu. Padahal walaupun rumah kita
searah, tetap jauhan dia. Bahkan aku rela mengantarnya sampai depan rumah.
Memang tak ada
habisnya aku membahas ini, tapi aku heran karena kamulah yang menjadi sumber
aku berimajinasi dalam tulisan. Aku seakan bangga punya perasaan ini, meskipun
kamu tidak mengetahuinya. Itu akan jauh lebih baik kamu tidak mengetahuinya.
Tetaplah begitu.
Tujuanku tidak
ingin dia tahu adalah karena aku takut, tak apa orang bilang aku pengecut. Kamu
boleh salahin aku, bahkan mengungkapkan kata suka pun aku gak sanggup. Aku
berlindung dibalik dinding atas nama pertemanan yang selama ini terjalin, aku
mungkin termasuk baik karena tak ingin merobohkan dinding itu.
Tapi aku termasuk
juga bodoh, membiarkan dia pergi dengan yang lain.
Aku tak menyalahkan
sang pangeran, tapi menyalahkan diri sendiri yang sampai sejauh ini bodohnya.
Bahkan terlampau bodoh dan pengecut.
Jika waktu kembali
ke masa lampau, aku ingin kembali menikmati waktu bersamamu. Kembali menikmati
indahmu itu bidadari kecilku, meskipun hanya sebatas teman akrab yang abadi.
Saat itu, saat
dimana kita tertawa bersama ketika aku melihat senyum indahmu dan lekung indah
matamu.
Di dedikasikan untuk masa lalu



0 komentar:
Posting Komentar