Sejujurnya, aku sedang cemas memikirkan esok hari kita akan seperti apa. Sebab begitu banyak kemungkinan dari ketidak mungkinan yang ada, serta ada satu hal yang mengganjal batinku tetapi enggan kutanyakan kepadamu, yaitu jawaban sebuah kalimat.

Apakah engkau mencintaiku dan masihkah ada kemungkinan itu?


Setiap harinya, aku memangkas rindu yang tumbuh kering seperti alang-alang, semakin kutebas, semakin mereka meranggas. Hingga rasa lelah menasihatiku untuk berhenti dan membiarkan setiap malam dadaku meledak dengan batuk yang sesak, sebab apalagi yang bisa kuperbuat ketika kau lenyap selain menghibur kedua mataku yang bengkak?

Kau dan aku tak pernah tau kapan takdir menghancurleburkan definisi kita. Ia bukanlah penyabar, melainkan penghitung dan penagih  tanpa belas kasih.

Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau khawatirkan, kau boleh mengetahui aku yang terlampau sering mengemis kepada jarum jam agar waktu berjalan cepat hingga kau dan aku berhadapan saling tatap.

Apabila esok hari bukan aku lagi yang tiba-tiba membawa seikat bunga dan kau kegirangan tanpa aba-aba, kuharap itu bukan menjadi alasan kau melupakan tiap detil kenangan kita yang sebentar lagi kau makamkan.

Apabila esok hari ada lengan lain yang bukan milikku memelukmu erat kala udara dingin lebih tajam dari sindiran lidah remaja labil, betapa hangat tubuhmu membekas abadi tanpa koma dan karena.

Apabila esok hari bukan aku lagi yang membuat bekal makan siangmu, semoga orang itu rajin bangun sebelum bulan angkat kaki saat subuh dan tidak takut menantang minyak panas untuk meniriskan cinta dalam bentuk yang mengeyangkan perutmu, seperti aku.

Apabila esok hari ternyata ada orang lain yang kau cintai, ingatlah seseorang yang pernah begitu jatuh cinta padamu dalam gugup kali pertama menatap sepasang matamu yang serupa bintang jatuh.

Terima kasih telah membuat hatiku hidup lagi setelah mengalami mati suri yang panjang, sebab bila bukan karenamu, aku masihlah seorang pengecut yang tak pernah berani menciptakan bahagiaku sendiri. Terima kasih juga untuk kesediaanmu untuk ada untukku, karena aku selalu berangan dapat menghentikan waktu saat menggenggam tanganmu. Terima kasih terakhir kalinya, karena berkatmu aku belajar dengan baik menjadi aku.

Dan apabila esok hari itu tiba, aku telah mengikhlaskanmu. Sebab merelakan memang tak pernah sesederhana tangis perpisahan. Oleh karena hatiku telah luluh lantak sepaket dengan iman dan raga yang nyaris tumbang pada tiap kata yang mengakhiri tulisan ini, aku hanya ingin berkata sejujur-jujurnya apabila esok hari itu tiba.


Selamat tinggal, aku pergi dalam keadaan sangat mencintaimu.
Kepadamu yang telah pergi...
Terima kasih pernah singgah walau sekejap
Terima kasih pernah datang walau akhirnya pergi
Terima kasih pernah menjaga walau akhirnya menghilang

Kepadamu yang telah pergi...
Berbahagialah dengan rumahmu yang baru
Berbahagialah dengan nyamanmu yang baru
Berbahagialah dengan senyummu yang baru

Kepadamu yang telah pergi...
Singgahlah disana untuk yang terakhir
Singgahlah disana hingga akhirnya menetap
Singgahlah disana hingga kau menjadikannya rumah

Kepadamu yang telah pergi...
Semoga senyummu tetap bahagia
Semoga rumahmu takkan hilang kembali
Semoga nyamanmu takkan pergi

Kepadamu yang telah pergi...
Ada hati yang kau tinggalkan dengan luka disini.
Aku tidak sedang ingin
Melupakanmu...
Aku juga tidak sedang ingin
Menepis bayanganmu...

Ku biarkan segalanya luruh
Bersama rintik hujan di tepi senja sore ini.
Mengkristalkan rasa yang tersisa,
Tak pernah jadi pekerjaan yang mudah,
Dan bukan pekerjaan yang aku suka.

Bergumul dengan luka...
Memakai topeng kesana-kemari.
Aku selalu bisa tampak baik-baik saja,

Di hadapanmu.
Berpura-pura,
bahwa ini mudah buatku.
Tapi, di depan mereka,
Dan di hadapan diriku sendiri,
Aku tak pernah bisa.

Kubiarkan mereka menertawaiku
Mencemooh kebodohanku
Yang masih saja mencintaimu
Dengan begitu gaduh.
Yang masih saja begitu berisik,
Merindukanmu.

Ya, aku tak pernah menang
Jika ini selalu tentangmu,
Aku tak pernah mudah menemukan cara
Untuk berlalu begitu saja.

Aku tak pernah mudah menemukan cara
Untuk menghilang begitu saja.
Tanpa harus menoleh kebelakang,
Untuk diam-diam kembali menatapmu
dari kejauhan.
Sekalipun hanya bisa kunikmati kamu,
Sebatas punggungmu saja.

Di senja yang basah,
Bersama dengan secangkir kopi hangat,
Kubiarkan hati ku kembali bernostalgia,
Menikmati rasa yang tersisa.
Menggenapkan rasa yang tertinggal.
Sebab cinta selalu tentang rasa...

*Untuk kamu yang diam-diam masih ku kenang

*Untuk kamu yang diam-diam (masih) kurindu
Kamu tidak tau...
Ada hal yang tidak kamu tau ketika kau tersenyum, tentang seseorang yang melakukan sama setiap kali dia melihatmu. Dia merasa gembira, tanpa kau tau, dia terpejam dan membayangkanmu berada di sampingnya.

Ada hal yang tidak kamu tau ketika kau tertawa, tentang seseorang yang memamerkan giginya dalam mulutnya yang terbungkam, agar orang di sekitarnya tak menyangka dia gila karena tertawa melihatmu tertawa, meskipun bukan karenanya.


Ada hal yang tidak kamu tau ketika kau menangis, tentang seseorang yang merasakan hatinya teriris. Dia tak mampu menepis rasa sakit di hatinya ketika melihatmu menangis, karena dia merasa apa yang kau rasa adalah perasaannya juga. Kau adalah bagian darinya.

Ada hal yang tidak kamu tau ketika kau marah, tentang seseorang yang mengepalkan tangannya untuk siap meninju orang yang menjadi tersangka atas penyebab kemarahanmu, tetapi dia tak mempunyai hak atau kuasa untuk melakukannya karena dia bukan siapa-siapamu.

Ada hal yang tidak kamu tau ketika kau sedih, tentang seseorang yang ingin sekali memelukmu erat, menguatkanmu, menabahkanmu, meyakinkanmu bahwa semua akan baik-baik saja. Namun dia menahannya, orang itu hanya berharap kau selalu bahagia.

Ada hal yang tidak kamu tau ketika kau tertidur, tentang seseorang yang duduk di atas sejadahnya, mengangkat kedua tangannya sedada, dan mengucapkan amin sebanyak-banyaknya. Dia berdoa meminta Tuhan memberimu bahagiamu saat terjaga, dia berharap kau pun mengamininya. Meskipun kau berbahagia bukan bersama dirinya.

Dan terakhir, tarik dan embuskankan napasmu sejenak untuk mengetahui hal terakhir.

Ada hal yang tidak kamu tau ketika kau jatuh cinta, tentang seseorang yang mencintaimu, namun kau tak pernah melihatnya. Kau terlalu sibuk melihat ke depan tanpa pernah sempat menengok ke belakang, kau selalu memunggunginya dan dia menunggu. Hingga akhirnya dia sadar semua ketulusan yang dilakukannya hanya sia-sia, namun dia mengikhlaskannya dan merelakanmu.


Dan ketika kamu tau tentang seseorang itu, dia telah ditemukan oleh seseorang yang melihatnya.
Saat Itu...


Berbicara tentang saat itu, aku ingat sesosok bidadari mungil yang pernah membawa imajinasiku menjadi luar biasa ketika dengannya. Iya, dia seorang yang pernah aku suka kala itu. Namun hanya di hati aku menyukainya, karena rasa itu tak pernah tersampaikan. Bahkan sampai saat ini.

Melihat picture di sebelah, menurut mu itu siapa dan siapa? Aku dan dia? Salah.
Itu adalah Dia dengan PangeranNya.

Aku pikir, proses dimana sang pangeran menyatakan perasaanya kepada Dia adalah seperti itu.
Lihat kan, betapa bahagianya bidadari kecil itu. Aku pun bahagia disini, meskipun dalam senyum yang getir .

Aku tidak akan menceritakan prosesnya sang pangeran menyatakan perasaan ke bidadari kecil itu seperti apa, tapi aku akan menceritakan saat bayang-bayangku merasa hebat, saat imajinasiku terasa besar, saat aku merasa menjadi makhluk yang paling bahagia ketika bersamanya.

Aku teringat saat kita pulang bersama, yang kebetulan jalan pulang kita memang searah. Waktu dimana ketika aku berangkat sendiri dan ketika pulang bareng dia terasa berbeda, aku merasa waktu sangat cepat berlalu. Padahal walaupun rumah kita searah, tetap jauhan dia. Bahkan aku rela mengantarnya sampai depan rumah.

Memang tak ada habisnya aku membahas ini, tapi aku heran karena kamulah yang menjadi sumber aku berimajinasi dalam tulisan. Aku seakan bangga punya perasaan ini, meskipun kamu tidak mengetahuinya. Itu akan jauh lebih baik kamu tidak mengetahuinya. Tetaplah begitu.

Tujuanku tidak ingin dia tahu adalah karena aku takut, tak apa orang bilang aku pengecut. Kamu boleh salahin aku, bahkan mengungkapkan kata suka pun aku gak sanggup. Aku berlindung dibalik dinding atas nama pertemanan yang selama ini terjalin, aku mungkin termasuk baik karena tak ingin merobohkan dinding itu. 

Tapi aku termasuk juga bodoh, membiarkan dia pergi dengan yang lain.
Aku tak menyalahkan sang pangeran, tapi menyalahkan diri sendiri yang sampai sejauh ini bodohnya. Bahkan terlampau bodoh dan pengecut.

Jika waktu kembali ke masa lampau, aku ingin kembali menikmati waktu bersamamu. Kembali menikmati indahmu itu bidadari kecilku, meskipun hanya sebatas teman akrab yang abadi.
Saat itu, saat dimana kita tertawa bersama ketika aku melihat senyum indahmu dan lekung indah matamu.


Di dedikasikan untuk masa lalu


Sesuatu hubungan pasti selalu di akhiri dengan kata putus. Dan setiap putus selalu ada kalimat-kalimat yang agak aneh yang terlihat baik tapi ada sesuatu yang buruk jika di telaah dan di pikirkan dengan seksama.

Apa saja kalimat itu? Coba kita bahas…….


1. Kamu terlalu baik buat aku
          Iya pasti kalimat ini sudah sering banget di denger yaa, “kamu terlalu baik buat aku” . suka bingung sama orang yang putus terus bilang ini, kenapa bisa bilang begitu. Jadi dia mau punya pacar yang jahat gitu? Kalo gitu pacaran aja sama preman atau anak camp jaman sekarang biar setiap hari di jahatin terus. Terus kalo gak kuat di jahatin terus minta putusnya “kamu terlalu jahat buat aku” gitu? Hahaha intinya kalimat kamu terlalu baik buat aku adalah kalimat yang paling bullshit pada saat putus.

2.  Aku gak pantes buat kamu
         Kalimat ini juga sering banget di jadiin kalimat sandiwara saat putus. Kalimat yang paling apaansih ini, aneh. Alasan yang janggal kalo dipikirin, seharusnya kalo emang beneran sayang gak putusin dan pake alasan ini, harusnya dia berusaha untuk memantaskan dirinya buat sang pacar. Tapi mungkin ada yang lain, dan mungkin di balik kata “aku gak pantes buat kamu” berubah menjadi “aku pantesnya buat dia”.

3. Kamu pasti dapet yang lebih baik dari aku
Kalimat ini makna pertamanya emang sangat amat bijak, di balik kalimat ini dia mendoakan dan meyakinkan kalo kamu pasti bisa dapet yang lebih baik dari dia. Kenapa dia bisa bilang begitu? Mungkin aja karena dia sudah mendapatkan yang lebih baik dari kamu dan akhirnya dia memakai alasan ini agar terlihat dia yang salah dan terlihat baik karena dia bukan yang baik buat kamu.

4. Aku gak mau kamu makin sakit karena aku
Kalimat ini juga sering banget di lontarkan saat putus. Kalimat ini juga berarti dia sadar kalo dia gak mau kamu makin sakit karena dia. Tapi sebenarnya lebih sakit lagi dengan dia bilang ini malah menambahkan rasa sakit dan makin sakit karena setelah ini dia benar-benar pergi.

Harusnya kalo selama ini dia sadar menyebabkan sakit, harusnya dia berubah menjadi pribadi yang membawa kebahagiaan, bukan putus dan memakai kalimat ini.


5. Tapi kita masih bisa jadi temen kan
Biasanya kalimat ini ada pada di akhir-akhir sebelum putus dan keduanya saling setuju kalo setelah putus mereka tetep jadi temen. Tapi biasanya juga itu Cuma berlaku pada hari putus itu dan besoknya, lusa, seminggu kemudian, setahun kemudian dan seumur hidupnya. Ketika keduanya saling bertemu, mereka malah seperti gak saling kenal dan gak pernah kenal.


Gimana? Bener kan? Pasti semua pernah dapet kalimat-kalimat penuh kebohongan di balik kalimat-kalimat yang udah di jelasin tadi.

Gapapa.

Mungkin memang bukan dia orang yang baik yang telah disiapkan oleh tuhan, percaya aja “Orang yang baik akan mendapatkan orang yang baik juga”. Percaya deh.
Dalam hidup yang kita jalani pasti selalu penuh dengan tanda tanya, tak terkecuali dalam soal cinta. Pasti selalu ada kenapa di dalam kenapa. Kenapa begini ya? Kenapa begitu ya? Kenapa ya? Gitu aja terus.

Pada kali ini mau coba bahas tentang seseorang yang dulunya sudah capek sama yang namanya cinta, dan sampai akhirnya semesta memberikan kesempatan buat dia untuk merasakan cinta lagi.

Ternyata kali ini semesta jahat, semesta yang memberikannya kesempatan tapi pada akhirnya semesta juga yang membuat dia terjatuh karena cinta.

Dia benar-benar berharap kali ini semesta memberikannya kesempatan yang dia tunggu dan kepada orang yang tepat. Ternyata dia salah, dia terlalu naif. Ternyata harapanya itu benar-benar jauh dari apa yang dia harapkan.

Dia yang dulunya bisa hidup tanpa cinta, sekarang dia merasa hidupnya hancur karena cinta. Dan dia  sekarang masih terjebak di dalam ke patah hatiannya.

Dari sedikit gambaran cerita di atas kita bisa ambil banyak pelajaran di dalamnya.

Misalnya tentang harapan yang dia bangun sendiri. Kenapa dia terlalu berharap sama kesempatan yang dia dapatkan? Kenapa dia begitu yakin kalo itu orang yang tepat?

Harusnya dia harus lebih sabar untuk menaruh harapan sebesar itu, harusnya dia harus berpikir matang apa dia orang yang tepat atau bukan. Dan ternyata dia salah, ternyata akhirnya dia jatuh sama harapan yang di bangunnya sendiri.

Juga tentang ke patah hatiannya. Kenapa dia terlalu lama dalam patah hati itu sendiri? Kenapa dia merasa hidupnya mati begitu saja karena cinta?

Harusnya dia berpikir kenapa dia harus terlalu lama terjebak di dalam patah hatinya. Toh dulu dia bisa hidup tanpa cinta dan itu membuat dia baik-baik saja. Harusnya dia berpikir kalau adanya cinta itu gak menjamin hidupnya akan menjadi lebih baik. Dan terbukti  ternyata karena adanya cinta hidupnya malah menjadi berantakan.

“Terkadang kita harus lelah dengan yang namanya cinta, dan terkadang  kita  juga harus percaya kalau dengan cinta itu gak menjamin kita jadi lebih baik, malah  cinta itu bisa menjadi boomerang buat kita sendiri”

Jadi buat kamu, jangan terlalu berharap sama sebuah hubungan yang lagi di jalani. Jangan karena pasangan kita baik sama kita, kita yakin dia orang yang tepat. Jangan karena sebuah hubungan yang sudah terjalin lama, kita yakin dan kita berharap bahwa dia orang yang terakhir buat kita.

Cinta gak semudah itu, cinta itu rumit.
Jadi tetep harus berhati-hati lagi sama harapan yang telah kita bangun, jangan sampai kita hancur karena harapan yang kita bangun sendiri.